Cerita horor makam unik Ki Ageng Sekar Alas 3 Habis: Muncul godaan ulat bulu dan harimau putih
Cerita horor makam unik Ki Ageng Sekar Alas di Sleman Yogyakarta sering dialami oleh para pelaku tirakat.
Pelaku tirakat di Makam Ki Ageng Sekar Alas Sleman Yogyakarta sering dapat godaan makhluk astral yang mengerikan.
Godaan makhluk astral di Makam Ki Ageng Sekar Alas bisa berupa munculnya ulat bulu, dan penampakan harimau putih sebesar sapi.
Konon pula, bagi pelaku tirakat yang keinginannya terkabul akan melihat penampakan seekor puyuh berwarna putih.
Berbagai penampakan makhluk astral itu dipercaya tidak lepas dari sosok Ki Ageng Sekar Alas sebagai tokoh sakti di masa lalu.
Namun, Ki Ageng Sekar Alas yang bernama asli I Gede Dewa Wastu tidak mau menjadi raja dan memilih mengembara bersama ahli nujumnya.
Dalam pengembaraannya itu, I Gede Dewa Wastu pernah singgah di Tasikmalaya, Banyumas, Purworejo, dan menetap di Padukuhan Tambakrejo Donoharjo Ngaglik Sleman.
Dia membuka kawasan Tambakrejo yang saat itu masih berupa hutan belantara dan menyamar sebagai seorang petani, dan berganti nama Ki Ageng Sekar Alas.
Ketika di zaman Jepang, pernah terjadi pagebluk dan membuat warga setempat sakit hingga meninggal dunia.
Pagebluk itu baru bisa diatasi setelah warga mengadakan selametan di Makam Ki Ageng Sekar Alas.
Dari peristiwa itulah, warga percara Ki Ageng Sekar Alas bukan tokoh sembarangan, dan dianggap sebagai pepunden.
Menurut Suparno, Ki Ageng Sekar Alas mengembara bersama ahli nujumnya, istri dan tiga orang pengikut setianya.
Semuanya lalu dibuatkan nisan stupa seperti wangsit gaib yang diterima Suparno selama tirakat di makam.
Nisan stupa Ki Ageng Sekar Alas dibuat lebih besar dari nisan stupa lainnya.
Menurut Suparno, Ki Ageng Sekar Alas hanya mau dibuatkan nisan asal dari setu paing. Kata setu paing ini diartikan stupa.
Stupa melambangkan manusia yang tidak sempurna. Bentuknya bulat merupakan simbol manunggaling kawula klawan Gusti.
Puncak stupa yang meruncing seperti tumpeng melambangkan segala sesuatu ada tuntunannya, yakni Tuhan YME.
Sedangkan arah hadap nisan stupa yang membujur ke arah barat melambangkan keyakinan kaum Budha terhadap alam.
Barat adalah arah matahari tenggelam, sedangkan timur saat matahari terbit.
Ketika orang mencari terang, maka akan pergi ke arah timur seperti halnya matahari yang terbit dari arah timur.
Saat manusia kembali kepada Sang Pencipta, makamnya menghadap ke barat sebagaimana matahari yang tenggelam.
Begitulah cerita horor Makam Ki Ageng Sekar Alas di Sleman, Yogyakarta, yang membuatnya dikenal luas hingga sekarang.